Apa Itu Tinitus?
Tinitus adalah persepsi suara tanpa adanya sumber suara eksternal yang nyata.
Penderitanya dapat mendengar:
-
Denging (ringing)
-
Berdengung (buzzing)
-
Siulan (whistling)
-
Desisan (hissing)
-
Gemuruh
-
Suara mesin
-
Suara listrik
-
Suara jangkrik
-
Detakan yang mengikuti denyut nadi
Suara tersebut bisa:
-
Di satu telinga
-
Kedua telinga
-
Terasa berasal dari dalam kepala
Yang penting dipahami:
Tinitus bukan penyakit, melainkan gejala dari suatu kondisi yang mendasarinya.
Seberapa Sering Tinitus Terjadi?
Diperkirakan sekitar 10–20% populasi pernah mengalami tinitus.
Sebagian besar ringan dan tidak mengganggu.
Namun sekitar 1–3% populasi mengalami tinitus berat yang dapat menyebabkan:
-
Gangguan tidur
-
Gangguan konsentrasi
-
Kecemasan
-
Depresi
-
Penurunan kualitas hidup
Sejarah Pemahaman Tinitus
Zaman Kuno
Dokumen Mesir dan Yunani kuno sudah mencatat keluhan telinga berdenging.
Hippocrates menganggap suara tersebut berasal dari gangguan aliran udara dalam tubuh.
Pengobatan yang digunakan saat itu:
-
Minyak herbal
-
Ramuan tanaman
-
Pembersihan telinga
Abad Pertengahan
Tinitus sering dikaitkan dengan:
-
Ketidakseimbangan cairan tubuh
-
Faktor spiritual
-
Gangguan saraf
Belum ada metode pemeriksaan objektif.
Abad 19–20
Perkembangan:
-
Otoskop
-
Audiometer
-
Pemeriksaan neurologis
Mulai diketahui hubungan antara:
-
Kerusakan koklea
-
Kehilangan pendengaran
-
Tinitus
Era Modern
Saat ini pemeriksaan dapat menggunakan:
-
Audiometri nada murni
-
Tympanometri
-
OAE (Otoacoustic Emissions)
-
ABR (Auditory Brainstem Response)
-
MRI
-
CT Scan
Penelitian modern menunjukkan bahwa sebagian besar tinitus berasal dari perubahan aktivitas saraf pendengaran dan otak.
Bagaimana Tinitus Terjadi?
Sistem pendengaran terdiri dari:
-
Telinga luar
-
Telinga tengah
-
Koklea (rumah siput)
-
Saraf pendengaran
-
Pusat pendengaran di otak
Jika sel rambut koklea rusak:
-
Sinyal suara yang masuk berkurang
-
Otak berusaha "meningkatkan volume"
-
Aktivitas saraf menjadi berlebihan
-
Timbul persepsi suara palsu
Analogi sederhananya:
Ketika antena radio rusak, radio menangkap "noise" atau desis. Tinitus sering dianggap sebagai "noise neurologis" dari sistem pendengaran.
Jenis-Jenis Tinitus
1. Tinitus Subjektif
Paling sering terjadi.
Hanya penderita yang dapat mendengarnya.
Mencapai >95% kasus.
Penyebab:
-
Kerusakan koklea
-
Presbikusis (penuaan)
-
Paparan bising
-
Gangguan saraf
2. Tinitus Objektif
Sangat jarang.
Pemeriksa terkadang juga dapat mendengarnya.
Penyebab:
-
Kelainan pembuluh darah
-
Spasme otot telinga
-
Kelainan anatomis
3. Tinitus Pulsatil
Berbunyi:
-
Duk
-
Duk
-
Duk
Mengikuti denyut jantung.
Harus mendapat perhatian khusus karena bisa terkait:
-
Kelainan pembuluh darah
-
Hipertensi
-
Tumor vaskular
4. Tinitus Tonal
Nada tunggal seperti:
-
Ngiiiing
-
Tiiiit
Paling sering dijumpai.
5. Tinitus Non-Tonal
Berupa:
-
Gemuruh
-
Desis
-
Dengung
Tingkat Keparahan Tinitus
Secara klinis dapat dibagi:
Ringan
-
Hanya terdengar saat sepi
-
Tidak mengganggu aktivitas
Sedang
-
Mulai mengganggu konsentrasi
-
Kadang mengganggu tidur
Berat
-
Sulit tidur
-
Sulit bekerja
-
Menimbulkan stres
Sangat Berat
-
Gangguan psikologis signifikan
-
Kualitas hidup menurun drastis
Penyebab Tinitus
Gangguan Telinga
Sumbatan Serumen
Kotoran telinga yang menutup liang telinga.
Infeksi Telinga
-
Otitis eksterna
-
Otitis media
Penyakit Meniere
Ménière's disease
Gejala:
-
Vertigo
-
Tinitus
-
Penurunan pendengaran
Paparan Kebisingan
Sangat sering ditemukan.
Contoh:
-
Konser
-
Speaker keras
-
Mesin pabrik
-
Headphone volume tinggi
Kerusakan bisa permanen.
Penuaan
Disebut:
Presbycusis
Biasanya mulai usia lanjut.
Obat-Obatan Ototoksik
Beberapa obat dapat memicu tinitus:
-
Aspirin dosis tinggi
-
Gentamisin
-
Furosemid
-
Cisplatin
Gangguan Metabolik
-
Diabetes
-
Hipotiroid
-
Dislipidemia
Gangguan Rahang
TMJ disorder dapat memicu tinitus.
Gangguan Psikologis
-
Stres
-
Kecemasan
-
Kurang tidur
Sering memperparah tinitus yang sudah ada.
Pemeriksaan Tinitus Modern
Otoskopi
Melihat:
-
Serumen
-
Infeksi
-
Gendang telinga
Audiometri
Pemeriksaan paling penting.
Menentukan:
-
Ada tidaknya gangguan pendengaran
-
Pola kehilangan pendengaran
Tympanometri
Menilai fungsi telinga tengah.
OAE
Menilai fungsi sel rambut koklea.
ABR
Menilai jalur saraf pendengaran.
MRI
Dilakukan bila dicurigai:
-
Tumor saraf pendengaran
-
Kelainan otak
Pengobatan Tinitus
Sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan seluruh jenis tinitus.
Pengobatan ditujukan pada penyebabnya.
Jika Ada Sumbatan Serumen
Bersihkan serumen.
Jika Ada Infeksi
Obati infeksi.
Jika Ada Gangguan Pendengaran
Alat bantu dengar sering membantu mengurangi tinitus.
Sound Therapy
Menggunakan:
-
White noise
-
Suara hujan
-
Suara ombak
-
Suara kipas
Tujuannya mengurangi perhatian otak terhadap tinitus.
Tinnitus Retraining Therapy (TRT)
Melatih otak agar mengabaikan tinitus.
Metode ini cukup banyak digunakan dalam audiologi modern.
Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
Terbukti membantu mengurangi penderitaan akibat tinitus kronik.
Hal yang Sebaiknya Dihindari
-
Paparan suara keras
-
Headphone volume tinggi
-
Begadang
-
Stres kronis
-
Merokok
-
Konsumsi alkohol berlebihan
Pada sebagian orang:
-
Kafein
-
Minuman energi
dapat memperburuk tinitus, walaupun efeknya tidak sama pada semua orang.
Fenomena "Hum"
Fenomena "The Hum" adalah laporan adanya suara dengung frekuensi rendah yang didengar sebagian orang.
Karakteristik:
-
Mirip mesin diesel jauh
-
Mirip transformator listrik
-
Lebih jelas malam hari
Penyebabnya belum sepenuhnya diketahui.
Teori yang diajukan:
-
Tinitus frekuensi rendah
-
Sensitivitas terhadap suara lingkungan
-
Resonansi bangunan
-
Sumber industri
-
Faktor neurologis
Sebagian kasus ternyata memang merupakan tinitus.
Sebagian lainnya kemungkinan suara lingkungan nyata yang tidak disadari orang lain.
Mengapa Saat Tempat Sangat Sepi Kita Mendengar Denging Halus?
Ini pertanyaan yang sangat menarik.
Pada ruang yang sangat sunyi, hampir semua orang dapat mendengar suara samar.
Penyebabnya antara lain:
Aktivitas Dasar Sistem Saraf Pendengaran
Saraf pendengaran tidak pernah benar-benar diam.
Selalu ada aktivitas listrik spontan.
Otoacoustic Emissions
Koklea dapat menghasilkan suara yang sangat lemah.
Sebagian orang mampu merasakannya.
Neural Noise
Otak menghasilkan "background electrical activity".
Biasanya tertutupi oleh suara lingkungan.
Saat lingkungan sangat sunyi, noise tersebut menjadi lebih terasa.
Apakah Semua Denging Berbahaya?
Tidak.
Banyak orang sehat mendengar:
-
Denging halus
-
Desis ringan
saat berada di ruang yang sangat sunyi.
Yang perlu diperiksa adalah bila:
-
Tinitus menetap
-
Semakin keras
-
Hanya satu telinga
-
Disertai penurunan pendengaran
-
Disertai vertigo
-
Disertai denyut nadi
-
Timbul mendadak
Fakta Menarik tentang Tinitus
-
Frekuensi tinitus sering berada pada rentang frekuensi yang mengalami kehilangan pendengaran.
-
Orang tuli total pun dapat mengalami tinitus.
-
Otak memiliki peran yang sangat besar dalam pembentukan tinitus.
-
Banyak penderita akhirnya mengalami habituasi, yaitu otak belajar mengabaikan suara tersebut.
-
Tinitus lebih sering mengganggu pada malam hari karena tidak ada suara lingkungan yang menutupi persepsi tersebut.
Kesimpulan modern yang saat ini paling diterima dalam ilmu THT dan audiologi adalah bahwa tinitus bukan sekadar masalah telinga, melainkan gangguan pada keseluruhan sistem pendengaran yang melibatkan koklea, saraf pendengaran, dan pusat pendengaran di otak. Karena itu, evaluasi yang baik tidak hanya memeriksa telinga, tetapi juga fungsi pendengaran, kondisi neurologis, kesehatan umum, serta faktor psikologis yang dapat memengaruhi persepsi suara tersebut.
Daftar Pustaka
- Tunkel, D. E., Bauer, C. A., Sun, G. H., Rosenfeld, R. M., Chandrasekhar, S. S., Cunningham, E. R., Jr., Archer, S. M., Blakley, B. W., Carter, J. M., Granieri, E. C., Henry, J. A., Hollingsworth, D., Khan, F. A., Mitchell, S., Monfared, A., Newman, C. W., Omole, F. S., Phillips, C. D., Robinson, S. K., ... Whamond, E. J. (2014). Clinical practice guideline: Tinnitus. Otolaryngology–Head and Neck Surgery, 151(2 Suppl), S1–S40. https://doi.org/10.1177/0194599814545325
- National Institute for Health and Care Excellence (NICE). (2020). Tinnitus: Assessment and management (NICE Guideline No. 155). London: NICE.
- Sherlock, L. P., Ballard-Hernandez, J., Boudin-George, A., Clark, K., Colandrea, M., Edmonds, C., Kelley, C., Lovelace, S., Mahmood, S., Martinez, I., Myers, P., Pulliam, S., Sall, J., Spencer, M., Theodoroff, S. M., Tolisano, A. M., Wayman, L. M., Zaugg, T., & Folmer, R. L. (2025). Clinical practice guideline for management of tinnitus: Recommendations from the US VA/DOD Clinical Practice Guideline Work Group. JAMA Otolaryngology–Head & Neck Surgery, 151(5), 513–520. https://doi.org/10.1001/jamaoto.2025.0052
- Department of Veterans Affairs & Department of Defense. (2024). VA/DoD clinical practice guideline for the management of tinnitus. Washington, DC: U.S. Department of Veterans Affairs and Department of Defense.
- Tunkel, D. E., Jones, S. L., & Rosenfeld, R. M. (2016). Guidelines for tinnitus. JAMA, 316(11), 1214–1215. https://doi.org/10.1001/jama.2016.11905